Selamat Datang di Portal SMP Negeri 1 Margorejo

SMP Negeri 1 Margorejo

Bapak-bapak guru yang siap menemani siswa belajar, mentransfer ilmu dan membentuk karakter untuk masa depan

SMP Negeri 1 Margorejo

Ibu-ibu guru yang selalu menyiapkan waktunya untuk para siswa menemukan versi terbaik mereka

SMP Negeri 1 Margorejo

Penampilan Grup Rebana pada Lomba MAPSI 2021

SMP Negeri 1 Margorejo

Peringatan Isra Miraj di Sekolah

SMP Negeri 1 Margorejo

Peringatan HGN Tahun 2022

SMP Negeri 1 Margorejo

Pemberian Hadiah Lomba-lomba dalam rangka HGN dan HUT ke-40 SMARSA

SMP Negeri 1 Margorejo

Pembukaan Latihan Dasar Kepemimpinan

Senin, 12 Mei 2025

Batik Sibori

Batik Indonesia telah diakui dan menjadi bagian dari warisan budaya dunia oleh UNESCO, dengan pengakuan resmi pada tahun 2009. Batik tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga di dunia internasional, terutama setelah pengakuan dari UNESCO. Pelestarian batik dianggap penting untuk menjaga warisan budaya dan memberikan edukasi kepada generasi muda, seperti melalui museum dan ekstrakurikuler di sekolah. 


Sekarang ini ada bentuk pewarnaan pada kain yang sedang viral yang disebut bati sibori meskipun ada perbedaan teknik dengan batik kovensional. Batik Sibori ini diharapkan akan memperkaya khasanah perbatikan di Indonesia, tanpa meninggalkan budaya batik dengan pola-pola yang telah diturunkan dari leluhur kita yang bernilai adiluhung. Para generasi penerus juga perlu dikenalkan dengan bati sibori dengan maksud untuk mendorong generasi muda lebih kreatif dan berwawasan luas.


Batik Shibori tidak menggunakan lilin atau canting seperti batik pada umumnya. Sebaliknya, Shibori lebih fokus pada teknik lipatan, ikatan, dan tekanan pada kain sebelum pewarnaan. Meski begitu, keduanya sama-sama menawarkan keindahan dalam setiap helainya

Batik Shibori adalah teknik pewarnaan kain batik yang berasal dari Jepang, di mana motif dibuat dengan mengikat dan melipat kain sebelum dicelupkan ke dalam pewarna. Teknik ini menghasilkan pola unik yang tidak dapat diprediksi, berbeda dari batik tulis tradisional. Shibori berasal dari Jepang, dan teknik ini memiliki kesamaan dengan tie-dye, tetapi menghasilkan pola yang lebih terstruktur dan terkontrol.

Batik Shibori memiliki daya tarik tersendiri karena motifnya yang tak terduga dan proses pembuatannya yang kreatif. Kain Shibori banyak digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari busana santai, busana resmi, hingga aksesoris.

Dengan demikian, Batik Shibori adalah teknik pewarnaan kain yang menarik dan unik, menggabungkan elemen tradisional batik dengan teknik pewarnaan dari Jepang.
Dalam prakteknya inovasi yang dilakukan memodifikasi batik sibori ini yang pada awalnya menggunakan pewarna sintetis yang limbah buangannya rawan terhadap ekosistem di lingkungan menjadi menggunakan pewarna alami seperti penggunaan daun suji untuk memberikan warna hijau, rimpang kunir untuk warna kuning dan buah naga untuk warna merah.

Inovasi Batik Sibori ini adalah untuk meningkatkan kemampuan dan kreatifitas siswa dalam hal teknik pembuatan batik sibori yang bisa menjadi bekal ketrampilan ketika sudah di pendidikan yang lebih tinggi atau terjun di masyarakat.



Video Tutorial Pembuatan Kaos Motif Batik Sibori





Senin, 04 November 2024

Mari Hemat Listrik

 

Salah satu langkah kecil yang bisa kita lakukan untuk menghemat listrik adalah dengan melepas stop kontak saat alat elektronik sedang tidak digunakan
Mencabut stop kontak alat elektronik saat tidak digunakan dapat menghemat listrik karena mencegah konsumsi daya saat mode siaga atau yang dikenal sebagai "vempire power". Kebiasaan ini membantu mengurangi tagihan listrik karena memutus aliran listrik secara tuntas. Kebiasaan ini sangat efektif untuk menghemat tagihan listrik, mulai dari charger, TV, hingga mesin cuci, dan juga mencegah pemborosan energi serta potensi bahaya. 
Manfaat mencabut stop kontak
Mencegah pemborosan listrik: Meskipun dalam keadaan mati, banyak perangkat tetap mengonsumsi daya listrik untuk menjalankan fitur seperti lampu indikator, jam digital, atau mode siaga.
  • Mengurangi tagihan listrik: Dengan mencabut colokan, Anda mencegah terbuangnya energi secara sia-sia, yang secara bertahap akan mengurangi biaya listrik bulanan.
  • Menghindari risiko: Meninggalkan charger atau perangkat elektronik lain terus-menerus terhubung ke stop kontak dapat menimbulkan risiko bahaya seperti panas berlebih atau potensi kebakaran, terutama jika kualitasnya buruk.
  • Menghitung potensi penghematan: Jika dirata-rata, mencabut colokan perangkat yang tidak digunakan dapat menghemat tagihan secara signifikan, misalnya menghemat hingga Rp10.500 per 40 hari dari beberapa perangkat yang tercolok terus.
Contoh perangkat yang sebaiknya dicabut
  • Charger HP atau laptop: Cabut charger setelah baterai terisi penuh atau saat tidak digunakan untuk mengisi daya.
  • Televisi, konsol game, dan soundbar: Cabut colokannya saat tidak sedang digunakan untuk waktu yang lama, seperti saat akan tidur atau bepergian.
  • Peralatan dapur: Cabut colokan microwave, coffee maker, atau rice cooker setelah digunakan, karena beberapa di antaranya memiliki jam digital yang terus menyala. 

Sabtu, 20 Januari 2024

Haruskah Kurikulum Berubah


Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan (Wikipedia)
Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang sesuai dengan zamannya, dan terus dikembangakan atau diadaptasi sesuai dengan konteks dan karakteristik peserta didik demi membangun kompetensi sesuai dengan kebutuhan mereka kini dan masa depan.







 

Sabtu, 16 Desember 2023

Student Center Learning : Jawaban terhadap Tantangan Jaman

 


Sudah menjadi keniscayaan bahwa kemajuan zaman menimbulkan perubahan pada berbagai sisi kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Perkembangan era digital yang sangat pesat menimbulkan tantangan baru di dunia pendidikan. Hal yang dianggap paling krusial adalah bagaimana mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan dengan paradigma baru yang lebih dinamis. Hal ini mengakibatkan paradigma pembelajaran konvensional yang berpusat pada guru mulai dipertanyakan relevansinya bagi tuntutan kemajuan zaman. Sebagai gantinya, pendekatan pembelajaran yang berpusat pada murid semakin populer dan mendapat perhatian khusus.

Pembelajaran yang berpusat (sering juga disebut dengan istilah berpihak, menghamba) pada murid bukanlah sebuah tren baru dalam dunia pendidikan. Ini adalah sebuah model pendidikan yang menempatkan murid sebagai pemain utama, subjek, pusat, bahkan motor utama pada proses belajar. Murid tidak lagi dianggap sebagai wadah kosong yang perlu diisi dengan pengetahuan, melainkan sebagai individu yang memiliki potensi, minat, dan cara belajar yang unik Hal ini tentu bertolak belakang dengan model konvensional yang meletakkan peran guru sebagai pusat pembelajaran dan sumber belajar utama, 

Sejalan dengan hal itu, peran guru bergeser dari seorang pengajar yang mentransfer ilmu menjadi seorang fasilitator yang mendampingi, membimbing (among), serta memfasilitasi proses belajar murid. Sebagai contoh, dapat kita bayangkan sebuah kelas dengan suasana hidup, dimana murid terlibat diskusi secara aktif, bereksperimen, dan memecahkan masalah bersama-sama. Di lain sisi, guru berkeliling memastikan proses belajar berjalan dengan baik sembari memberikan bimbingan dan dukungan ketika diperlukan. Pembelajaran seperti ini tentu lebih memberikan makna bagi murid. Seperti inilah gambaran pembelajaran yang berpusat pada murid, yaitu sebuah pendekatan yang mengubah paradigma tradisional tentang bagaimana seharusnya proses belajar berlangsung

Ciri-Ciri Pembelajaran Berpusat pada Murid

  1. Keterlibatan Murid: 

Kata terlibat dimaksudkan bahwa murid tidak hanya berperan sebagai objek pembelajar, pendengar pasif yang menampung ilmu dari guru, namun bertidak sebagai aktor utama dalam setiap kegiatan pembelajaran seperti diskusi, proyek, eksperimen, dan presentasi. Dalam hal ini mereka didorong untuk bertanya, menganalisis, mengevaluasi, dan memecahkan masalah

  1. Pembelajaran yang Kontekstual

Materi yang digunakan pada pembelajaran yang berpusat pada murid adalah materi yang relevan dengan dunia nyata, kehidupan sehari-hari murid, serta sesuai konteks dan minat murid. Hal ini meningkatkan motivasi dan pemahaman karena siswa dapat melihat relevansi dari apa yang mereka pelajari. Misalnya materi pembelajaran di pesisir pantai tentu berbeda konteksnya dengan materi di daerah perkotaan maupaun pegunungan. 

  1. Kolaborasi dan Interaksi Sosial

Pada pembelajaran yang berpihak pada murid juga terlihat adanya kolaborasi dan interaksi sosial yang aktif pada murid. Kegiatan yang sejalan dengan hal ini misalnya membuat kerja kelompok kecil dimana murid dapat saling berbagi ide, bertanya, berdiskusi, dan bekerja sama menyelesaikan tugas, mempresentasikannya di depan kelas, serta saling memberikan umpan balik (feedback). Guru berperan sebagai pendamping, berkeliling memastikan proses belajar berlangsung dengan baik, serta membantu murid memberikan umpan balik.  

  1. Berpikir Kritis

Pembelajaran yang berpusat pada murid mendorong murid untuk mampu menganalisis informasi secara kritis, mengevaluasi berbagai sudut pandang, dan membuat kesimpulan berdasarkan bukti. Misalnya pada pelajaran sejarah, murid tidak hanya menghapal tokoh, tanggal, serta tempat peristiwa berlangsung, namun juga menganalisis penyebab, memberikan argumentasi tentang dampak, sebab dan akibat dari peristiwa tersebut berdasarkan fakta.

  1. Kreativitas sebagai Hasil Ekspresi Diri

Pembelajaran yang berpusat pada murid memberikan ruang seluas-luasnya bagi murid untuk mengekspresikan diri melalui ide-ide mereka secara kreatif. Hal ini bisa dilakukan dalam kegiatan proyek seni, tulisan, prakarya, dan sebagainya.

  1. Diferensiasi

Pembelajaran yang berpusat pada murid menekankan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan, minat, dan tingkat kemampuan murid sebagai individu yang unik. 

Tantangan dan Solusi

Meskipun memiliki banyak manfaat, penerapan pembelajaran berpusat pada murid tak lepas dari beberapa tantangan. Diantaranya adalah pola pikir yang sulit menerima perubahan (resistensi guru dan orangtua terhadap perubahan), keterbatasan sumber daya sekolah, serta kebebasan yang disalahartikan. Namun tantangan tersebut tentu dapat mempunyai alternatif solusi. 

Tantangan yang berasal dari dalam diri guru serta orangtua murid yaitu cara pandang (mindset) yang sulit diubah tentang bagaimana proses belajar seharusnya berlangsung. Hal ini terkait perubahan pola pendidikan konvensional yang menjadikan guru sebagai pusat belajar menjadi pendidikan yang berpusat pada murid. Selain itu, motivasi guru untuk mengembangkan diri secara mental dan professional belum merata, sehingga menghambat penerapan pendidikan yang berpusat pada murid secara maksimal.untuk menjawab hal ini, solusi yang dapat diambil adalah dengan melakukan pendekatan secara holistik dengan melibatkan semua pemangku kepentingan dalam proses perubahan. Pendekatan dapat dilakukan baik melalui rapat intern guru maupun antar guru dengan orangtua murid sehingga mampu menjembatani pemahaman yang sejalan tentang pendidikan yang berpusat pada murid.

Faktor keterbatasan sumber daya juga merupakan tantangan yang sering dihadapi dalam implementasi pembelajaran yang berpusat pada murid. Seperti yang kita ketahui, terdapat ketimpangan antara sumber daya fasilitas sekolah di perkotaan dengan di pelosok desa. Selain itu, ketersediaan jaringan yang mendukung penerapan konsep pembelajaran ini juga belum merata. Hal ini dapat diatasi dengan berkolaborasi memanfaatkan aset (sumber daya) yang tersedia secara maksimal sembari menjalin kerjasama dengan pihak dinas pendidikan serta pemangku kepentingan seperti orangtua murid, kepala pemerintahan setempat, instansi kesehatan, keagamaan, dan lainnya untuk memberikan bantuan fasilitas pendukung.  

Tantangan selanjutnya adalah kesalahpahaman tentang kebebasan yang melalui penerapan pembelajaran yang berpusat pada murid. Hal ini sering menjadi miskonsepsi khususnya pada penerapan Kurikulum Merdeka. Arti berpusat, berpihak, menghamba pada murid seringkali disalah artikan sebagai kebebasan tanpa batas. Hal ini dapat diatasi dengan membuat batasan yang jelas tentang kekebasan yang dimaksud melalui kesepakatan (keyakinan) kelas yang disusun bersama murid berdasarkan nilai-nilai kebajkan universal. Hal ini memungkinkan murid dapat menggunakan ruang kebebasannya untuk mengeksplor diri secara bertanggungjawab. 

Disarikan dari artikel web BBGP Sumut oleh Mukhsinin